Perbatasan Perbukitan Karst dengan Basin Wonosari ( Paliyan )

Perbatasan Perbukitan Karst dengan Basin Wonosari ( Paliyan )

Dinamakan Paliyan  karena memang daerah ini merupakan peralihan antara daerah Pegunungan Sewu yang merupakan bentuklahan perbukitan karst menuju daerah Basin Wonosari yang merupakan daerah cekungan (basin).

Daerah Paliyan ini awalnya terbentuk dari pengangkatan daerah laut dangkal karena adanya pertumbuhan gunungapi sehingga laguna dan atol mucul panggung masif yang berupa perbukitan karst dan laguna ini berkembang menjadi basin. Daerah yang terangkat ini  kemudian mengalami erosi dan pelapukan yang menyebabkan material terdeposisi di antara atol yang telah terangkat ke daratan tersebut dengan panggung masiv yang berada di selatannya. Untuk karakteristik tanahnya masih mengikuti daerah Pegunungan Sewu, yaitu terrarossa, karena sumber materialnya memang berasal dari daerah tersebut dengan pH normal (6-7). Namun semakin ke utara tanahnya beralih menjadi tanah grumosol atau margalit dengan struktur pejal dan permeabelitas tinggi.

Karakteristik hidrologi untuk air permukaannya adalah kondisi debitnya yang kecil  bahkan hampir tidak ada dan tergantung curah hujan. Sementara air tanahnya juga kurang baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Airtanah di daerah ini didominasi oleh sungai bawah tanah, dan penduduk memperoleh air dari sungai bawah tanah Bribin yang disalurkan melalui pipa-pipa dengan memanfaatkan  gaya gravitasi dan dengan menggunakan PAH (Penampung Air Hujan) Akibatnya, tumbuhan yang ada di daerah ini adalah tumbuhan-tumbuhan yang tidak membutuhkan suplai air yang banyak, seperti singkong, jati, kayu putih, turi, kedelai, dll yang menyebabkan produktivitas tanamannya pun juga rendah.

Gambar 6. Kenampakan perbatasan daerah karst dengan basin Wonosari

Di daerah ini penduduknya sangat jarang. Pola permukimannya menyebar disepanjang jalan, sehingga permukiman hanya di temukan di pinggiran jalan raya. Hal ini menyebabkan kepadatan penduduk rendah dengan jumlah penduduk yang sedikit. Tipe permukiman didaerah  ini berupa semi permanen dan non permanen denga kualitas yang belum cukup bagus. Mata pencaharian penduduk di daerah itu adalah petani musiman, yaitu petani yang mengandalkan tanaman-tanaman musiman. Selain itu ada juga penduduk yang bermata pencaharian sebagai peternak. Pendidikan masih dan kesehatan masih rendah hal ini terlihat dari kondisi lingkungan tempat tinggal masyarakat. Fenomena yang ditemukan adalah terjadinya kerusakan jalan pada jalan kearah basin Wonosari, belum ada pemanfaatan secara intensif untuk pengelolaan SDA, keterbatasan SDA untuk pengembangan permukiman dan permukiman, perhatian terhadap kesehatan masih kurang dan sulitnya memperoleh air ketika musim kemarau. Oleh karena itu dalam pengelolaan sumber daya lahan dalam konservasi lahan dan perhatian dari pemerintah sehingga kendala-kendala tersebut dapat diatasi.

Di kawasan karst Gunung Sewu, penggundulan hutan dan pembersihan vegetasi penutup lahan seperti di Paliyan. Perusakan ini biasa terjadi di hutan milik Dinas Kehutanan, yang sering diidentikkan sebagai milik umum, sedangkan hutan milik rakyat relatif lebih aman. Pembabatan vegetasi juga didorong adanya usaha peternakan yang menggantungkan pakan dari tumbuhan liar. Hal ini makin memudahkan terjadinya erosi oleh air hujan, dan mengendapkannya di gua-gua. Untuk itu, rencana bantuan ternak untuk masyarakat, perlu memperhitungkan resiko yang dapat timbul. Erosi oleh air hujan menyebabkan top soil tanah yang subur terbuang sia-sia dan menelanjangi permukaan karst, sehingga terbuka. Usaha merehabilitasi karst, perlu waktu, tenaga, dan perhatian yang jauh lebih besar daripada mempertahankannya. Sedangkan sungai bawah tanah diharapkan dapat menjadi sumber air bersih yang diandalkan sepanjang tahun, yaitu Gua Bribin dengan debit 80 liter/detik, Seropan 80 liter/detik, Ngobaran 70 liter/detik, dan umbul Baron dengan debit 20 liter/detik  belum dimanfaatkan secara maksimal (Kompas, 21/06/2002).

Kekritisan lahan yang terjadi oleh tanah yang amat mudah mengalami erosi terutama di bukit karst yang sudah gundul. Indikator lahan kritis ditunjukan oleh hilangnya lapisan tanah penutup batuan dan munculnya singkapan batuan yang amat luas. Pada umumnya pengundulan lahan perbukitan sebagai akibat  penebangan pepohonan oleh manusia dalam upaya ekstensifikasi lahan pertanian atau pertambangan. Konflik pemanfaatan sumberdaya alam terjadi sebagai akibat tidak adanya produktivitas lahan pertanian yang mencukupi kebutuhan manusia di kawasan karst secara berkelanjutan sehingga muncul kegiatan alternatif seperti pertambangan, penebangan pohon untuk konservasi. Masalah ini memang dapat terjadi dalam jangka panjang sebagai bentuk mempertahankan kehidupan mereka. Namun demikian bila masalah ini tidak di atasi dapat menimbulkan kritis air dan kerusakan lingkungan hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: