Kondisi Industri Bantul

Bantul merupakan salah satu wilayah kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, terletak di sebelah selatan Kota Yogyakarta dengan luas wilayah lebih kurang 506,85 km persegi, dibagi dalam 17 Kecamatan, 75 Desa, dan 933 Dusun. Jumlah penduduk Bantul pada 2006 adalah 1.624 jiwa/km2. Dilihat dari kontribusi yang diberikan setiap sektor dalam pembentukan pendapatan ekonomi Bantul pada tahun 2005 dan 2006, ternyata sektor pertanian memiliki kontribusi terbesar, diikuti industri pengolahan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran dan jasa-jasa.

Bantul merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai tingkat perkembangan industri yang relatif tinggi dibandingkan dengan kabupaten Kulonprogo maupun Gunungkidul. Namun arah pengembangan inudustri di daerah ini, belum dilakukan dengan baik. Studi – studi mengenai pengembangan industri di daerah Bantul masih sangat diperlukan untuk menghindari kesalahan dalam penentuan arah pembangunan industri, yang dapat menyebabkan kemunduran sektor industri. Pemerintah Daerah mempunyai peran yang cukup signifikan dalam pengembangan industrialisasi di daerah. Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan untuk menentukan arah kebijakan pengembangan industri, baik menyangkut pola pengembangan, macam dan jenis industri, penyelesaian masalah lingkungan, lokasi industri, dan penyusunan prioritas pengembangan maupun mode kemitraaan yang akan dikembangkan. Karena pengembangan industrialisasi tidak lepas dari berbagai permasalahan seperti sumberdaya alam, sumberdaya manusia, teknologi, ekonomi dan manajemen, lingkungan, budaya maupun aturan perundangan, maka penetuan prioritas pengembangan industri harus senantiasa mempertimbangkan dengan semua faktor di atas, sehingga terjadi kesinambungan pembangunan.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor industri mampu menyerap sebesar 51.459 orang atau sebesar 30 % dari total usia produktif di seluruh Kabupaten Bantul. Studi pengembangan industri di Kabupaten Bantul sangat dibutuhkan, sehingga dapat memperluas kesempatan berusaha dan meningkatkan kesempatan kerja yang pada akhirnya mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun pengembangan industri akan mencapai nilai optimal apabila diketahui potensi yang dimiliki, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, kondisi faktual industri yang ada sekarang baik dari aspek produktivitas, investasi, lokasi maupun interkorelasi industri.

Terdapat beberapa teori yang berusaha mengupas tentang masalah aglomerasi. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai teori-teori tersebut, perlu dipahami lebih dahulu konsep aglomerasi. Istilah aglomerasi muncul pada dasarnya berawal dari ide Marshall tentang penghematan aglomerasi (agglomeration economies) atau dalam istilah Marshall disebut sebagai industri yang terlokalisir (localized industries). Agglomeration economies atau localized industries menurut Marshall muncul ketika sebuah industri memilih lokasi untuk kegiatan produksinya yang memungkinkan dapat berlangsung dalam jangka panjang sehingga masyarakat akan banyak memperoleh keuntungan apabila mengikuti tindakan mendirikan usaha disekitar lokasi tersebut (Mc Donald, 1997: 37). Konsep aglomerasi menurut Montgomery tidak jauh berbeda dengan konsep yang dikemukakan oleh Marshall. Montgomery mendefinisikan penghematan aglomerasi sebagai penghematan akibat adanya lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan pengelompokan perusahaan, tenaga kerja, dan konsumen secara spasial untuk meminimisasi biaya-biaya seperti biaya transportasi, informasi, dan komunikasi. Sementara Markusen menyatakan bahwa aglomerasi merupakan suatu lokasi yang “tidak mudah berubah” akibat adanya penghematan eksternal yang terbuka bagi semua perusahaan yang letaknya berdekatan dengan perusahaan lain dan penyedia jasa- jasa, dan bukan akibat kalkulasi perusahaan atau para pekerja secara individual (Kuncoro, 2002: 24). Selanjutnya dengan mengacu pada beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa aglomerasi merupakan konsentrasi dari aktifitas ekonomi dan penduduk secara spasial yang muncul karena adanya penghematan yang diperoleh akibat lokasi yang berdekatan.

Aglomerasi industri adalah kawasan berikat (kawasan khusus) untuk industri – industri khusus yang sejenis, dengan tujuan melakukan efisiensi produksi atas biaya – biaya produksi yang tak diperlukan. Penggunaan metode klusterisasi spasial ini cenderung dipakai setelah era 90’an. Diperkenalkan pertama kali di Amerika serikat, seperti di wilayah Silicon Valley
Dengan melakukan aglomerasi industri, diharapkan akan mengurangi eksternalitas teknologi yang yang menyebabkan biaya produksi makin tinggi. Selain itu, kawasan berikat (aglomerasi industri) yang juga digabungkan dengan aglomerasi buruh (labor agglomeration) akan mempermudah pekerja untuk mencari pekerjaan di daerah kluster, serta mempercepat mobilitas kerja mereka, sebab tempat kerja relatif jadi lebih dekat. Lalu keuntungan lainnya adalah mempercepat distribusi output, sebab para distributor tak perlu kesulitan lagi mencari bahan / produk yang akan mereka pasarkan di kawasan industri berikat (wilayah aglomerasi industri).

Seiring perkembangan waktu, sektor usaha kecil kerajinan tradisional di daerah Kasongan, Bantul, berkembang pesat. Banyak keluhan muncul dari para perajin di daerah ini karena mereka kesulitan menyediakan bahan baku berupa dedaunan, kulit kayu, akar- akaran, dan biji-bijian, sebagai aksesori kerajinan.

Bantul merupakan kabupaten yang memiliki keunggulan di sektor agro dan kerajinan. Kedua sektor ini apabila dikembangkan dengan baik dengan manajemen yang baik pula, akan dapat menyejahterakan rakyat. Aglomerasi tiap sektor perlu diterapkan untuk dua sektor ini untuk lebih mengoptimalkan pengelolaan serta para pembeli (khusus kerajinan) tidak perlu menghabiskan banyak tenaga dan waktu untuk memilih barang kerajinan, seperti yang telah ada yaitu Pasar Seni Gabusan, dimana pasar tersebut menjadi pusat penjualan kerajinan-kerajinan yang dihasilkan oleh pengrajin-pengrajin yang ada di Bantul, serta pemerintah telah menyediakan fasilitas inlineport di Sedayu yang berfungsi untuk proses eksport hasil-hasil kerajinan. Sektor agro juga demikian, industri pengolahan gabah lebih baik di pusatkan pada satu tempat agar pengolahan dari hasil menjadi lebih efisien dan optimal. Sehingga dapat menghemat biaya serta masyarakat (petani maupun konsumen) tidak dibingungkan.

Sektor yang merupakan salah satu unggulan di Kabupaten Bantul ini, tingkat pertumbuhan industri pengolahan setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Kontribusi yang diberikan sektor ini pada PDRB mencapai 19,93% pada tahun 2005 namun mengalami penurunan setelah terjadinya gempa pada Mei 2006 menjadi 17,22%, dengan sub sektor makanan, minuman, tembakau sebagai sub sektor yang memberikan kontribusi terbesar pada PDRB sebesar 67% pertahun untuk Kabupaten Bantul. Namun setelah terjadinya gempa, sektor ini memiliki tingkat penurunan yang luar biasa dalam produksinya.

Selain itu subsektor yang juga memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan sektor industri pengolahan adalah subsektor tekstil, barang kulit dan alas kaki yang memberikan kontribusinya dari hasil kerajinan yang banyak diekspor ke mancanegra, selain itu subsektor barang kayu dan hasil hutan juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan PDRB. Pertumbuhan yang diperoleh sektor ini bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan yang diperoleh oleh sektor yang sama di propinsi DI Yogyakarta, namun setelah terjadinya gempa memberikan pertumbuhan yang negatif pada tahun 2006.
Berbagai masalah yang muncul pada sektor industri pengolahan di Bantul pada dasarnya masih pada permasalahan yang sama, akan tetapi permasalahan makin muncul dan berkembang dengan adanya gempa bumi yang terjadi. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah: Ketidakmampuan membayar kredit, omzet yang menurun, ketidakmampuan berproduksi, kehilangan pasar, mundurnya mentalitas pekerja dan mental entrepreneur, beban pekerjaan yang belum terselesaikan dan ketidaksinkronan program pengembangan industri yang dibuat eksekutif dengan kebutuhan riil. Berbagai kebutuhan pendukung yang masih diperlukan oleh kabupaten Bantuluntuk pengembangan sektor industrinya antara lain adalah: perlunya database industri sehinggaintervensi yang dilakukan pemerintah untuk mendorong perkembangan industri bisa optimal, selain itu juga diperlukan lembaga desain produk mebel dan kerajinan sehingga produk kerajinan mempunyai karakter yang kuat, serta perlu ditingkatkankannya kemampuan pengrajin membaca trend pasar sehingga produknya dapat diserap pasar

Untuk sektor industri, berbagai industri kerajinan dengan berbagai skala, masih menjadi sub sektor yang utama yang dapat memberikan keunggulan komparatif terhadap Kabupaten Bantul. Sub sektor ini telah terbukti mampu memberikan sumbangan pada nilai eksport Bantul dan juga memberikan kesempatan kerja dan menjadi gantungan sumber pendapatan bagi berbagai industri rumahan/keluarga. menunjukan berbagai wilayah/sentra industri kerajinan yang ada di Bantul.
Pertumbuhan usaha dari unit usaha dipengaruhi oleh lamanya unit usaha/pengrajin telah menjalankan usaha atau dipengaruhi oleh umur dari unit usaha (firm age). Jika dilihat dari sisi teori maka unit usaha yang telah menjalankan operasi lebih lama maka akan memperoleh berbagai pengalaman atau kurva belajar (learning curve) yang lebih banyak, selanjutnya dengan pengalaman tersebut maka unit usaha tersebut akan mempunyai kemampuan menjalankan usaha yang lebih baik dan pada gilirannya akan tumbuh dengan lebih cepat (ceteris paribus).

Meskipun konsep-konsep dasar secara intuitif dapat memberikan penjelasan yang beralasan dan dinamik mengapa aktivitas ekonomi cenderung untuk terkonsentrasi secara geografis di suatu/beberapa tempat saja, tetap saja memiliki kelemahan mendasar yaitu tidak dapat memperhitungkan berbagai biaya yang hendak diminimalkan oleh perusahaan. Untuk itu dikembangkaan pemikiran-pemikiran baru yang mencoba menjelaskan mengapa aglomerasi terjadi di daerah tertentu. Pemikiran baru tersebut diantaranya: Eksternalitas Dinamis, Paradigma Pertumbuhan Perkotaan, Geografi Ekonomi Baru, dan Analisis Biaya Transaksi.

Konsep dan teori yang telah dikemukakan mengenai aglomerasi di atas menyajikan sumbangan pemikiran yang sangat berharga dalam menganalisa perilaku pengelompokan industri secara spasial. Namun konsep dan teori ini sebenarnya belumlah cukup apabila kita ingin mengetahui mengapa industri (khususnya manufaktur) cenderung mengelompok disuatu atau beberapa daerah tertentu.

3 Responses

  1. ijin ya…. saya minta artikel ini utk referansi tugas kuliah… makasih…

  2. ijin Copas buat refrensi skripsi…
    thankZzz before..11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: